PARIWISATAKALTIM.com

PARIWISATAKALTIM.com

Kerajaan Hindu Tertua di Indonesia di Muara Kaman? #catatansahabat

Provinsi Kalimantan Timur memiliki banyak potensi wisata dan budaya yang kental, dari Wisata Sejarah, religi, seni budaya, kuliner hingga wisata alamnya yang indah. Dari segi Sejarah, salah satu Kabupaten yang memiliki sejarah Kerajaan Hindu tertua adalah Kabupaten Kutai Kartanegara, dimana ada situs Prasasti Yupa & Lesong Batu yang menegaskan bahwa sejak dahulu kala ada Kerajaan Hindu tertua di Indonesia, tepatnya di Kota Kecamatan Muara Kaman.

Muara Kaman adalah sedikit dari sedikit daerah di Indonesia yang memiliki kesinambungan sejarah panjang. Mula sejarah Nusantara berlangsung di sini. Penemuan empat buah prasasti Yupa pada tahun 1870 an disusul dengan penemuan tiga buah prasasti lainnya pada tahun 1940 an menjadi momentum bagi sejarah Indonesia. Dengan penemuan tujuh buah prasasti Yupa itu, memberi angin segar bagi sejarah Indonesia. H. Van de Wall merupakan orang asing pertama yang memperlihatkan ketertarikannya dengan mengunjungi dan mempublikasikan peninggalan purbakala di Muara Kaman. Pada tanggal 21 April 1874 dia tiba di Muara Kaman yang saat itu masih merupakan kampung kecil dan dihuni sedikit keluarga yang tinggal di 39 rumah rakit.


Prasasti Yupa dibuat dari batu Andesit, jenis batu yang tidak di terdapat di Muara Kaman dan diyakini kuat berasal dari hulu sungai mahakam. Rata – rata batu prasasti Yupa berbentuk lempengan empat persegi panjang yang tidak beraturan, dengan lebar 27 hingga 38 cm dan panjang 121 hinga 187 cm. Setiap batu Yupa memiliki enskripsi dengan aksara Pallawa yang berkembang di India Selatan, sedangkan bahasanya adalah Sanskreta. Kalimat di prasasti Yupa berbentuk Puisi India berirama Anustubh. Namun sangat disayangkan,Prasasti Yupa yang asli kini berada di Museum Nasional Jakarta, di Muara Kaman hanya ada replica. Namun setidaknya para pengunjung bisa belajar sejarah dengan hal yang tersisa.

Tertarik untuk menjelajahi sejarah masa lalu Indonesia, silahkan datang ke sini untuk meneliti, sekedar menambah wawasan, atau menambah saudara di muara kaman.

Bagaimana akses menuju Muara Kaman ?
Dari Balikpapan kamu bisa langsung menuju Tenggarong dengan Bis Umum (Rp.50.000,-) atau Mobil Travel (Rp.100.000,-) dengan durasi sekitar 3 jam. Lalu ikut Transportasi air sungai mahakam, Kapal Taxi / House Boat yang selalu berangkat pagi dari Pelabuhan Sungai Kunjang, Kota Samarinda. Berhubung Kapal Taxi berangkat sekitar jam 7 – 8 pagi usahakan kamu menginap di Samarinda atau Tenggarong satu hari sebelumnya. Ada 2 jenis kapal yang berbeda dari segi tujuannya. Ada yang hanya sampai ke Melak (Kabupaten Kutai Barat) dan satunya lagi sampai ke Long Bagun (Kabupaten Mahakam Ulu). Naik kapal dengan jurusan ke Melak, karena lebih cepat dan ukurannya lebih kecil dari kapal yang menuju Long Bagun. Perjalanan memakan waktu sekitar 8 – 9 jam dengan Kapal Taxi dengan biaya sekitar kurang lebih Rp.100.000,- per orang. Kapal akan melintasi 2 wilayah Kabupaten / Kota Madya, yakni Kota Madya Samarinda lalu Kabupaten Kutai Kartanegara. Di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara sendiri pertama – tama akan melintasi Kecamatan Loa Janan, Loa Kulu, Tenggarong, Tenggarong Seberang, Sebulu, dan akhirnya Muara Kaman. Jangan khawatir kelaparan, karena di kapal ada kantin untuk makan siang, atau bisa membeli cemilan saat kapal singgah di Pelabuhan Tenggarong Seberang. Kapal Taxi memiliki 2 kelas yang berbeda, kelas ekonomi yang ada di lantai bawah dan VIP di lantai atas. Kelas ekonomi tidak ada sekat alias duduk berbaur dengan penumpang lainnya, sedangkan di lantai atas ada kasur tipis dan bantal serta bisa menaruh tas di bawah tempat tidur, terminal listrik & kipas angin. Di lantai atas juga kita bisa duduk santai diteras depan atau belakang sambil melihat pemandangan sekitar saat kapal menyusuri sungai mahakam.

Tiba di Pelabuhan Muara Kaman, jalan kaki menuju Muara Kaman ulu menyisiri jalan yang ada di sisi sungai mahakam ada 2 Penginapan yang bisa didatangi untuk menginap, salah satunya Penginapan Ramohan. Biaya per kamar adalah Rp.100.000,- dengan 2 single bed plus Kipas Angin. Ada TV umum di teras depan penginapan. Untuk warung makan ada 2 di depan penginapan dan sisanya ada di dekat Pelabuhan. Masjid tidak jauh dari belakang penginapan.

Bagaimana menuju Situs?
Bisa berjalan kaki namun cukup jauh karena jaraknya kiloan meter. Sewa sepeda motor / sepeda warga setempat. Ikuti jalan sisi sungai hingga sampai di ujung kampung yang ada di Hulu, tepatnya saat menaiki bukit Brubus tidak jauh kamu akan menemukan Museum Mulawarman, sedangkan Situs Lesong Batu ada di area belakang Museum. Museum Mulawarman menyimpan replica Prasasti Yupa dan tidak dikenakan biaya masuk, jadi terserah kamu untuk memberi donasi kepada penjaga Museum. Selain prasasti Yupa juga ada beberapa artefak asli yang didapat dari hasil penggalian oleh Pemerintah Daerah yang disertai dengan informasi – informasi lainnya. Situs Lesong Batu dan beberapa peninggalan lainnya ada di area Belakang Museum, seperti Batu Yoni, Batu Lembu Ngeram, dan beberapa makam Islam tua yang diyakini sebagai penyebar agama Islam di tahun 1800 an. Beberapa diantaranya di keramatkan warga sekitar yakni makam Syech Rosid Sufki, Habib Abdullah, Habib Abdullah Rachman, Syech Al Habib Mustan Bin Muhammat Al Magribi.

Objek wisata / wisata lain yang ada di Muara Kaman atau area sekitarnya?
Salah satu yang bisa kamu lakukan saat di Muara Kaman adalah menyusuri anak Sungai Mahakam, Sungai Kedang Rantau, dengan ketinting . Sungai Kedang Rantau berada di Muara Kaman Ulu dan beberapa wilayah didalamnya merupakan bagian dari Cagar Alam Muara Kaman – Sedulang yang dimiliki oleh 2 Kabupaten, yakni Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Kutai Timur di bagian ujung sungai Kedang Rantau bagian Hulu. Sewa ketinting sekitar Rp.600.000,- hingga Rp.700.000,- untuk sekali trip dengan jarak yang di tentukan. Biasanya berangkat pagi dan kembali saat sore hari. Kapasitas maksimum ketinting sekitar 6 orang penumpang. Kamu bisa melihat tenangnya aliran air mahakam di Sungai Kedang Rantau, aktifitas nelayan, serta yang menarik adalah aktifitas satwa liarnya. Mulai dari jenis burung (Bangau Tong Tong, Elang Bondol, Kuntul Kecil, Kuntul Besar, Pecuk Ular Asia, Cangak Merah, Blekok Sawah, Pekaka Emas, dll), Primata (Monyet Ekor Panjang & Bekantan), Berang – Berang Sumatera hingga (jika beruntung) satwa langka yang terancam punah sekaligus ikon Provinsi Kalimantan Timur, Pesut Mahaham (Lumba – lumba Air Tawar khas Sungai Mahakam) yang populasinya kini masih di zona kritis, yakni 70 an ekor (Sumber dari Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia / YK RASI). Saat menyusuri sungai, bawa bekal yang cukup. Mulai dari air mineral dingin hingga cemilan dan bawa kertas kresek untuk menyimpan sampahmu, jangan sampai membuang sampah ke sungai. Untuk makan siang bisa berhenti di Desa Tunjungan (Kecamatan Muara Kaman) saat perjalanan sudah setengah jalan. Setelah makan siang perjalanan kamu berakhir dan ketinting akan kembali ke Muara Kaman.

Bagaimana kembali ke Tenggarong / Samarinda?
Kapal Taxi dari Melak biasanya tiba saat subuh hari di Muara Kaman, tunggu di Pelabuhan Muara Kaman, karena Kapal Taxi cenderung tidak mau singgah di Rakit kecil. Kamu akan sampai di samarinda sekitar siang hari.

Penulis : Innal Rahman
Blogger, Traveller, Pemandu Wisata / Tourist Guide (Himpunan Pramuwisata Indonesia – Kalimantan Timur, DPC Kabupaten Kutai Kartanegara, Ketua Komunitas Mahakam Explore, Marine Mammals Observer)

TERKAIT

DERAWAN semakin nyaman..

Masih ingatkah sobat wisata dengan pesona pulau Derawan yang teranugerahkan di Kabupaten Berau Kalimantan Timur ini…??? Pasti masih kan ya… Right!!! Kini Derawan semakin nyaman sobat wisata… Nyaman menyapa follower-follower

.....

Kemajuan Pariwisata Kutim di depan Mata

Sahabat #pariwisatakaltim.. Kamis siang ini Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur kembali mendapat kunjungan tamu spesial yaitu Bapak Rustam Effendi Lubis yang akrab di sapa dengan Reff Lubis atau Bupati Fesbuk.

.....

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *