PARIWISATAKALTIM.com

PARIWISATAKALTIM.com

Balikpapan “Rumah Belanda”

#rupanya
#Rumah_Belanda_Cagar_Budaya

Rupanya inilah yang dimaksud upaya Pertamina Refinery Unit V itu. Sebuah rumah di jalan Dahor Balikpapan yang dijadikan cagar budaya. Sebuah terobosan. Sebuah pertanggungjawaban. Sebuah keluhuran. Sebuah wujud akan kecintaan pada Indonesia melalui pelestarian cagar budaya. Wujudnya ialah mempertahankan 9 rumah panggung tua. Rumah itu niscaya dibangun oleh Belanda. Satu di antaranya sudah dibenahi dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya.

Seperti diketahui, yang dimaksud dengan Cagar budaya ialah daerah yang kelestarian hidup masyarakat dan peri kehidupannya dilindungi oleh undang-undang dari bahaya kepunahan. Menurut UU no. 11 tahun 2010, cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan atau kebudayaan melalui proses penetapan.

Bangunan yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya ini masih sangat kokoh. Bangunan rumah ini khas dengan pondasi beton yang kokoh dan berbentuk panggung. Bangunan cukup luas, berhalaman luas dan memang bersejarah.

“Rumah ini akan dimanfaatkan sebagai pusat kegiatan seperti pameran foto, kegiatan kesenian maupun diskusi.” tutur Communications and Relations Manager Area Kalimantan Dian Hapsari Firasati pada sebuah media April lalu. Tidak hanya itu, bangunan ini akan dikembangkan sebagai museum mini bagi sejarah kemajuan kota maupun sejarah perminyakan.

“Ke depannya diharapkan Dahor 3 menjadi ikon baru bagi pariwisata khususnya wisata budaya sehingga masyarakat bisa lebih mengenal asal mula Kota Balikpapan,” katanya saat itu.

Kemarin, Selasa, 29 Agustus, bersama Bu Oemy, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Balikpapan kami mengunjungi bangunan cagar budaya ini.

Melihat bangunan ini dari perspektif sekarang, terasa benar betapa nyamannya para petinggi Perusahaan Minyak Belanda itu ‘tempo doeloe’. Zaman sudah, rakyat sengsara, para petinggi itu sudah tinggal di rumah sangat besar dengan halaman yang luas.

Ada banyak foto bersejarah, terutama sejarah Pertambangan minyak di Balikpapan dan sekitarnya. Menurutku, sejarah perminyakan sejak Belanda hingga sekarang itu perlu dipelajari karena minyak itu adalah “darah” bangsa ini di masa lalu hingga sekarang.

Sayangnya, catatan itu tak bisa lengkap ditemukan di sini. Apalagi kalau ingin menemukan sejarah kota yang selalu jadi rebutan. Aku jadi ingat Anhar Gonggong yang mengatakan bahwa peperangan selalu berlatar belakang sumber daya energi.

Bukankah Jepang juga telah merebut Balikpapan dari Belanda dengan ribuan bala tentaranya? Bukankah kota ini juga diperebutkan ketika pergolakan PRRI di masa lalu? Balikpapan adalah kota terpenting setelah Jakarta di masa lalu. Bahkan, Jakarta itu, dibangun dari “rejeki” Balikpapan.

Maka, kuharap rekan Mustopan (MNC Media), Chairu (Net TV), Jasmin (Kompas TV), Asri (TV one), David (Trans TV), Agustebe (Anteve), Dwi (TVRI) dan rekan lainnya, juga media cetak Tribun dan Kaltim Post mau meliput, menulis lebih dalam cagar budaya ini. Bukan karena cagar budaya semata, tapi karena dari sini kita harapkan, bisa bisa diungkap kisah kota yang selalu jadi rebutan, kota yang berandil besar bagi negeri yang kita cintai ini.

Kepada Bu Oemy, kunyanyikan di harapanku Balikpapan untuk datang lagi bersama-sama sahabatku, termasuk kawan media. Maksud dilestarikannya rumah ini dan peruntukannya seperti dinyatakan Dian Hapsari mudah-mudahan terwujud agar kita semakin tahu bahwa Balikpapan adalah tulang punggung Indonesia di masa lalu dan tak mustahil di masa depan. Teluk Balikpapan di malam hari adalah Hongkong di waktu malam. Balikpapan, adalah kota peraih Adipura Kencana. Balikpapan Kubangun, Kujaga dan Kubela.

Dan, di Cagar Budaya ini, sentuhannya belum terasa. (Dispar/ESP)

TERKAIT

Nulis Artikel dapat PP Penerbangan Gratis!

Buat sahabat #pariwisatakaltim yang doyan banget jalan-jalan apalagi jalan-jalan gratis, pada kesempatan ini Ayo Jalan-jalan (ayojalanjalan.com) menyelenggarakan lomba menulis artikel jalan-jalan bertemakan Anugerah Pesona Indonesia (API) Sahabat dapat share pengalaman

.....

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *