PARIWISATAKALTIM.com

PARIWISATAKALTIM.com

Kami Bukan Bangsa Pembunuh

Atas pertanyaan saya, Venessa Quitas, Marco Melluso, Luna Hannappel, Konstatin Barthel, mengakui bahwa kedatangan mereka ke Kalimantan Timur karena ketertarikan mereka pada flora, fauna dan keragaman budaya.

“Tapi perkembangan pariwisata ini tidak semaju Bali ya?” Tanya Marco. Aku tidak membantah pertanyaan sekaligus pernyataan itu. Aku jelaskan saja bahwa Bali itu, sebelum merdeka pun sudah dikagumi dunia. Saat itu Kalimantan masih belantara. Pembangunan Pariwisata Bali itu tak pernah henti dan dilakukan oleh rakyat, pemerintah kabupaten/kota, provinsi, dan pusat secara simultan.
Masyarakat Bali, kataku, yakin betul bahwa hidup mereka bisa ditopang oleh pariwisata. “Jangan bandingkan Bali dengan Kaltim. Ratusan milyar bahkan mungkin trilyunan rupiah digelontorkan pusat ke Bali demi pariwisatanya. Zaman pak Harto, Nusa Dua dibangun besar-besaran dan itu sampai sekarang. Lihat saja tol di atas laut, hanya ada di Bali di Indonesia ini bahkan di Asean, barangkali”, jelasku.

Marco mengangguk dan paham atas ketidaksetujuanku atas pembandingan Bali dan Kaltim. Tapi ia mempersoalkan hutan jadi tanaman sawit dan orang utan yang mati dibunuh.
Aku bilang, tanam sawit masih lebih baik daripada tebang kayu dan tambang gas, minyak dan batu bara. Pemerintah, kataku, sudah beralih untuk menggali dan memanfaatkan sumber daya alam yang disampaikan diperbaharui. “Tidak semua hutan kami jadikan perkebunan. Kami punya banyak taman hutan raya. Hutan konservasi. ” Kataku meyakinkan. Aku harus membela negeriku dong.
“Kami melindungi orang utan. Anda bisa melihatnya di Kabo Jaya, atau di Merabu” kataku lagi. Marco mengatakan bahwa mereka memang akan ke Merabu. Mereka terusik membaca berita ada orang utan mati di perkebunan kelapa sawit.

“Kami melindungi orang utan. Pembunuhan terhadap orang utan adalah pelanggaran hukum. Mereka dihukum.” Ujarku lagi seraya mengatakan agar mereka percaya bahwa kita bukan bangsa pembunuh orang utan. Bahwa ada pembunuhan, itu tidak bisa digeneralisasi kita tidak melindungi orang utan.

Marco dan kawan-kawan kulihat puas atas penjelasanku. Setidaknya menurutku karena raut wajahnya tersenyum dan kepalanya mengangguk-angguk. Ia menyemangatiku dan meyakinkanku bahwa pariwisata itu sangat bisa dijadikan sumber perekonomian dan kesejahteraan penduduk.

Ah, itu bukan hal baru. Kataku dalam hati. Aku mengiyakan dan kubilang, “Bisnis pariwisata berbasis alam dan budaya itu memang menguntungkan. Kita dapat uang, wisatawan hanya bawa fotonya saja.” Jelasku pada mereka. Kujelaskan juga bahwa kemarin aku menerima kawan-kawan dari WWF yang akan mengidentifikasi potensi wisata alam sepanjang sungai Mahakam. Mata Venessa, Marco terbuka lebar. Rupanya mereka tahu dengan organisasi itu. Mereka tersenyum.

Ia lalu menunjuk brand pesona Indonesia. Aku punya kaos ‘warisan” bergambar pesona Indonesia itu. Kuserahkan pada mereka. Mereka spontan mengenakannya dan minta foto bersama. Aku bilang, kalau kau senang di Kaltim, bentuk jarimu seperti ini. Klik. Aku cinta Kaltim.

Sungguh, bukan aku yang ingin foto bersama. Aku lebih suka berfoto di air terjun atau di telaga daripada di ruang kerja.Hari ini mereka akan lihat pesut dan kehidupan warga pedalaman dengan keanekaragaman budayanya.

“Terima kasih. Mie soto. Nasi goreng” kata Marco lagi. Belum banyak kata bahasa Indonesia yang ia kuasa. Sama seperti aku. Aku hanya bisa bilang, “Thankyou. Have a nive trip.” Artinya? Jangan lupa nasi kuning, ya! (Dispar/ EsP)

TERKAIT

Happening Art Kaltim Menggemparkan Jogjakarta

Diprakarsai oleh Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur akan menggemparkan jogja dengan dalam ajang #BorneoExtravaganza dengan menyisir Malioboro serta menarik para pengunjung lewat atraksi-atraksi Seni Budaya yang dimiliki Oleh Kesepuluh Kabupaten/

.....

Buen Festival 2017

Penajam, Perhelatan Budaya yang menjadi Agenda Tahunan Besar PPU dalam Pelaksanaan Buen Festival 2017 Kembali akan digelar pada Bulan Agustus pada tanggal 4 – 6 Agustus 2017 yang dilaksankan di

.....

1 comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 + 2 =