PARIWISATAKALTIM.com

PARIWISATAKALTIM.com

Rita Widyasari: Dengan Pariwisata Kita Bisa Survive

RMOL. Kutai Kartanegara (Kukar) tidak bisa tumbuh berkembang hanya mengandalkan kekayaan alam migas dan batubara. Karena itu, harus membangun sektor lain untuk menambah pemasukan daerah. Yang paling berpotensi besar adalah sektor pariwisata.

Hal itu dikatakan Bupati Kukar, Rita Widyasari, saat diwawancara di kediaman pribadinya di Kota Tenggarong, Kukar, pada Senin pagi (24/7).

Kemarin, Rita membuka Festival Kesenian Rakyat Internasional ke-5 dalam rangka Erau Adat Kutai di Stadion Rondo Demang, Tenggarong. Erau adalah festival budaya terbesar dan tertua di Indonesia.

Sejak 2013, Erau disandingkan dengan perhelatan budaya tradisional dari berbagai negara dengan nama Erau International Folklore and Art Festival (EIFAF), di mana berbagai kesenian dan tradisi di lingkup Kesultanan Kutai ditampilkan bersama warisan budaya dunia dari berbagai bangsa di penjuru dunia. Rita menggandeng Council of Organizations of Folklore Festivals and Folk Arts (CIOFF) Indonesia dalam pelaksanaannya.

“Saya sudah lima kali menggelarnya bersama CIOFF. Alhamdulillah, kunjungan wisatawan makin meningkat. Animo masyarakat berbeda ketika kami menggandeng CIOFF,” katanya.

Rita sudah lama mencanangkan pariwisata dan agrikultur sebagai penopang ekonomi Kukar, menggantikan pemasukan dari tambang yang semakin anjlok karena kehilangan pamor. Ia bertekad mengubah struktur ekonomi yang tadinya bergantung dari dana bagi hasil tambang beralih ke pariwisata dan pertanian dalam arti luas (perkebunan, peternakan dan perikanan).

“Kami sudah jadi lumbung padi terbesar di Kaltim, juga di bidang perikanan. Kami surplus di bidang pangan,” ujarnya.

Pada 2015, Kukar menjadi penyumbang tertinggi jumlah wisatawan di Kaltim. Sekarang, Kukar berada di urutan dua setelah kawasan Derawan di Kabupaten Berau. Festival internasional dalam rangka Erau menjadi magnet wisatawan yang paling ampuh. Tahun lalu, jumlah wisatawan yang datang ke festival itu mencapai 120 ribu orang, melampaui target 70 ribu pengunjung.

“Tahun ini target 100 ribu. Insya Allah, bisa semarak. Ini terlihat dari kunjungan di Pulau Kumala dan panggung-panggung kesenian dari berbagai negara yang kami gelar tiap hari di beberapa titik,” ungkap Ketua DPD Partai Golkar Kalimantan Timur ini.

Strateginya dalam membangun pariwisata melibatkan kesultanan Kutai dan perusahaan-perusahaan tambang dan swasta lainnya, lalu mendorong partisipasi aktif warganya dengan pemberian latihan keterampilan dan bantuan untuk Usaha Kecil Menengah. Sisi pemberdayaan masyarakat itu mulai berhasil, terbukti dari kesukarelaan organisasi-organisasi masyarakat di Kukar melakukan kegiatan bersih kota menjelang pelaksanaan Erau.

“Mereka sudah paham bagaimana seharusnya menghadapi event sebesar Erau. Ada beberapa kegiatan di Erau ini tidak lagi dibiayai APBD. Walau anggaran tipis, tapi saya usahakan festival ini meriah, saya mencari dan akhirnya dibantu. Saya menekan anggaran tanpa harus menarik dari rakyat,” ungkap Rita.

Dia yakin, bila pembangunan infrastruktur antara Balikpapan dan Samarinda seperti jalan tol Balikpapan-Samarinda dan Bandar Udara di Samarinda terealisasi, maka jumlah wisatawan yang datang ke Kukar akan semakin melimpah. Selain itu, dibutuhkan improvisasi agar tidak monoton dan membangkitkan ekonomi kerakyatan.

“Sejauh ini, pendatang ke Erau berbeda-beda tiap tahunnya. Pamerannya juga berbeda-beda. Kami berusaha agar masyarakat tidak bosan dan mendapat hiburan. UKM bisa menampilkan produknya dan terus memperbaharui produk,” tambah Rita.

Festival Kesenian Rakyat Internasional ke-5 dalam rangka Erau Adat Kutai resmi dibuka kemarin siang (Minggu, 23/7) di Stadion Rondo Demang Tenggarong. Pembukaan dihadiri oleh Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly dan Gubernur Kalimantan Timur, Awang Faroek Ishak.

Hebatnya, ada 19 Duta Besar dari negara-negara sahabat antara lain dari Afghanistan, Mesir, Irak, Kazakhstan, Korea Utara, Libya, Maroko, Myanmar, Panama, Serbia, Sri Lanka, dan Turki, yang menghadiri agenda itu. Selain itu, perwakilan dari Amerika Serikat dan Forum Kerjasama Afrika-ASEAN. Rita yakin, Dubes dan perwakilan negara sahabat akan lebih banyak datang pada ajang tahun depan.

Sebelum festival dibuka, kelompok penampil seni dan tari dari Bulgaria, China Taipei, India, Jepang, Korea Selatan, Polandia, Slowakia, Thailand, Indonesia, secara berurutan menunjukkan kebolehan masing-masing. Ada sekitar 5000 orang menyaksikan acara pembukaan tersebut.

“Saya lahir di sini (Tenggarong), saya melihat keindahan alamnya masih banyak belum terekspos. Dan saya sadari Kukar tidak bisa terus bergantung pada sumber alam tak terbarukan. Dengan pariwisata dan budaya, kita bisa survive,” tegasnya. [ald/ALDI GULTOM]

Sumber: RMOL.co

TERKAIT

Kerja Bersama

“Untuk memajukan sektor pariwisata kita tak bisa bergerak sendirian. Untuk mewujudkan pariwisata menjadi core economy Indonesia, sektor ini harus dikerjakan bersama-sama. Karena itu saya menetapkan tahun 2017 sebagai tahun kolaborasi

.....

Ikuti Kompetisi Jelajah Nusantara 2.0

Ikuti kembali Kompetisi E-Magazine “Jendela Nusantara” 2.0 yang akan berlangsung dalam periode 7 – 20 September 2017 dengan total hadiah puluhan juta rupiah! Tata Cara Lomba: Untuk karya dibebaskan menggunakan

.....

1 comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + 7 =