PARIWISATAKALTIM.com

PARIWISATAKALTIM.com

Kemenpar Menginisiasi Penghargaan ISTA untuk Destinasi Wisata Indonesia

JAKARTA – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menginisiasi Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) ,‪27 September 2017‬. Sebanyak 80 destinasi dipastikan bakal masuk radar nominasi.
Lantas apa sih ISTA? Mengapa juga harus diinisiasi Kemenpar?

Bagi yang belum tahu, masih belum punya gambaran, siakan simak penjelasan Asisten Deputi Pengembangan Infrastruktur dan Ekosistem Pariwisata Kemenpar, Frans Teguh. Dari paparannya, ISTA merupakan ajang pemberian penghargaan untuk destinasi-destinasi yang dinilai telah menerapkan prinsip-prinsip pembangunan pariwisata berkelanjutan.
“Destinasi yang terpilih di ISTA akan dijadikan perwakilan Indonesia di ajang ASEAN Sustainable Tourism Award (ASTA). Itu merupakan kompetisi di internasional regional ASEAN,” ujar Asisten Deputi Pengembangan Infrastruktur dan Ekosistem Pariwisata Kemenpar, Frans Teguh, Selasa (4/4).

Pelaksanaan kegiatan ini akan dikolaborasikan dengan Green Hotel Award dan Anugerah Homestay. Kategori penghargaan, di antaranya Kategori Umum, Kategori Pengelolaan Destinasi Pariwisata Berkelanjutan, Kategori Pemanfaatan Ekonomi untuk Masyarakat Lokal, Kategori Pelestarian Budaya Bagi Masyarakat Dan Pengunjung, dan Kategori Pelestarian Lingkungan.
Frans menjelaskan, ISTA dirancang sebagai alat untuk merecognisi dan mendorong penerapan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan oleh destinasi-destinasi pariwisata di Indonesia. Di antaranya, mendorong lahirnya berbagai inovasi atas produk-produk pariwisata berkelanjutan, partisipasi dan kerjasama sektor publik maupun swasta, dan ajang promosi serta branding bagi destinasi pariwisata baik di tingkat nasional maupun internasional dalam rangka peningkatan kunjungan wisatawan.
“Sasaran dari kegiatan ini adalah terpilihnya destinasi-destinasi wisata yang dapat dijadikan model pengembangan destinasi pariwisata yang berkelanjutan dan dipromosikan nasional maupun internasional. Kriteria penilaian yang digunakan dalam ISTA, adalah kriteria yang sesuai dengan Peraturan Menteri Pariwisata No. 14 Tahun 2016 tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan,” papar Frans.
Secara garis besar, keempat kriteria dimaksud adalah pengelolaan destinasi pariwisata berkelanjutan, pemanfaatan ekonomi untuk masyarakat lokal, pelestarian budaya bagi masyarakat dan pengunjung, dan pelestarian lingkungan.
”Inisiatif ini sejalan dengan visi pembangunan destinasi pariwisata yang kompetitif dan berkelanjutan,” ujar Deputi Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata, Dadang Rizki Ratman.
Menteri Pariwisata Arief Yahya mengingatkan agar selalu menggunakan global standart dalam segala lini. Termasuk untuk menilai sustainable tourism development. “UNWTO sudah punya skema penilaian yang baku dan berstandar dunia. Silakan pakai kategorisasi dan bobot penilaiannya,” ungkap Arief Yahya.

Menurut Arief, reputasi Indonesia dalam pembangunan pariwisata berkelanjutan sudah sangat positif. Bahkan, dia sebut, Indonesia menempati peringkat kedua setelah China dalam hal dimaksud, seperti diungkapkan pada pembukaan PATA Travel Mart 2016. Prestasi tersebut tentu menjadi tantangan tersendiri bagi daerah di destinasi untuk terus menerapkan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan.

“Bicara pariwisata, tidak hanya tentang destinasi melainkan juga pengembangan infrastruktur secara keseluruhan dan berkelanjutan. United Nation World Tourism Organization (UNWTO) mendefinisikan pariwisata berkelanjutan secara sederhana sebagai pariwisata yang memperhitungkan penuh dampak ekonomi, sosial dan lingkungan saat ini dan masa depan, memenuhi kebutuhan pengunjung, industri, lingkungan dan masyarakat setempat,” jelas Menar Arief yahya.
Praktik manajemen dan pedoman pembangunan pariwisata berkelanjutan dapat diaplikasikan ke semua bentuk aktifitas pariwisata di semua jenis destinasi wisata, termasuk pariwisata massal dan berbagai jenis kegiatan pariwisata lainnya.

“Untuk menjamin keberlanjutan jangka panjang, maka keseimbangan antar prinsip-prinsip pembangunan pariwisata berkelanjutan harus dibangun dengan baik,” kata mantan Dirut PT Telkom ini.
Menpar Arief melanjutkan, pencapaian pariwisata berkelanjutan merupakan proses yang berkesinambungan, membutuhkan pemantauan yang konstan, dan inovasi mengenai langkah-langkah pencegahan dan perbaikan terhadap dampak dari kegiatan pariwisata.

“Pariwisata berkelanjutan juga harus menjaga tingkat kepuasan dan memastikan pengalaman yang berarti untuk para wisatawan, meningkatkan kesadaran wisatawan tentang isu-isu keberlanjutan, sekaligus mengajak wisatawan untuk mempromosikan penerapan pengelolaan lingkungan yang baik di sekitarnya,” tutup Menpar Arief Yahya. (*)

TERKAIT

Kuala Abadi Juarai Tingkat Provinsi Kaltim

Lomba Kelompok Sadar Wisata ( Pokdarwis ) tingkat Provinsi Kalimantan Timur telah digelar oleh Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur (12/10) di Grand Sawit Hotel Samarinda. Gubenur Kalimantan Timur yang di

.....

Sekelebat Hari Pariwisata Dunia

Samarinda, Hari ini Dunia sedang merayakan serta memperingati World Tourism Day atau Hari Pariwisata Dunia yang jatuh tepat pada tanggal 27 September setiap tahunnya. Hari Pariwisata Dunia telah memasuki tahun

.....

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 + 9 =